CNDSS
  • Home
  • Commenting
  • Insight
  • Weekly Report
  • Agenda
  • About us
No Result
View All Result
CNDSS
  • Home
  • Commenting
  • Insight
  • Weekly Report
  • Agenda
  • About us
No Result
View All Result
CNDSS
No Result
View All Result

Weekly Report 1-9 Agustus 2026

cndss.id by cndss.id
13 August 2026
in Weekly Report
0
Weekly Report 1-9 Agustus 2026
Share on FacebookShare on Twitter

Iran Ancam Negara Timur Tengah yang Bantu AS: Siap-siap Dilalap Api Perang

Ilustasi: Gemini AI

Denpasar – Militer Iran mengancam negara-negara di Timur Tengah yang bekerja sama dengan Amerika Serikat (AS) selama konflik masih berkecamuk. Teheran menyebut negara yang menjadi tameng pertahanan Washington akan dilalap kobaran api perang.

“Amerika Serikat dengan cepat melangkah menuju eskalasi ketegangan di kawasan ini,” kata Kepala Komando Pusat Militer Iran Ali Abdollahi dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah, seperti dilansir AFP, Sabtu (1/8/2026).

“Negara mana pun yang menjadi tameng pertahanan bagi Amerika yang kriminal dan agresif akan dilalap kobaran api perang,” tegas Abdollahi.

Iran menuding AS terus meningkatkan ketegangan di kawasan di tengah konflik yang kembali memanas.

Pernyataan Abdollahi disampaikan setelah Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan ancaman untuk menghantam Iran “dengan sangat keras”. Trump juga menegaskan tekadnya untuk memenangkan perang melawan Iran yang dimulai oleh serangan gabungan AS dan Israel pada akhir Februari lalu.

Pertempuran kembali berkobar setelah penangguhan serangan yang hanya berlangsung singkat.

“Kita akan menghantam Iran dengan sangat keras dan, Anda tahu, pada titik tertentu mereka akan berkata, ‘Kami benar-benar tidak tahan lagi’,” tegas Trump.

Ancaman terbaru Trump muncul ketika media-media terkemuka AS, seperti CBS News dan Wall Street Journal (WSJ), melaporkan bahwa AS dan Israel sedang bersiap melancarkan operasi pengeboman paling intens yang menargetkan infrastruktur energi Iran, termasuk pembangkit listrik dan kilang minyak.

Serangan gabungan tersebut diperkirakan dapat terjadi pada akhir pekan ini.

Laporan media-media AS menyebut Trump masih mempertimbangkan rencana serangan besar-besaran itu dan hingga kini belum memberikan lampu hijau. Meski demikian, AS dan Israel dilaporkan terus melakukan koordinasi.

Jika rencana tersebut benar-benar dijalankan, Israel akan kembali menyerang Iran untuk pertama kalinya sejak gencatan senjata awal diberlakukan pada April lalu.

Sumber

Detikbali, 2026. “Iran Ancam Negara Timur Tengah yang Bantu AS: Siap-siap Dilalap Api Perang” [Online]. In Iran Ancam Negara Timur Tengah yang Bantu AS: Siap-siap Dilalap Api Perang [Accessed on 2 Agustus 2026]

Latihan Terintegrasi TNI 2026, TNI Kerahkan Drone Kamikaze, Tank, MLRS hingga Rudal C-705 

Foto: Tangkapan layar youtube halo biru

JAKARTA – Tentara Nasional Indonesia (TNI) menggelar skenario Operasi TNI Terintegrasi 2026 di Daerah Latihan TNI AL Dabo Singkep, Kepulauan Riau dengan menampilkan kemampuan tempur Perisai Trisula Nusantara dari Matra Darat, Laut dan Udara. Berbagai kemampuan operasi gabungan ditampilkan, mulai dari serangan siber, pengoperasian USV, drone serbu dan drone kamikaze, hingga bantuan senjata khusus yang melibatkan rudal C-705, tank, Multi Launcher Rocket System (MLRS), sistem pertahanan udara, serta bantuan tembakan howitzer. Seluruh rangkaian latihan mencerminkan semakin kuatnya integrasi kemampuan tiga matra yakni TNI AD, TNI AL dan TNI AU.

Latihan ini dipimpin oleh Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin beserta Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto dan para Kepala Staf Angkatan pada Rabu (5/8/2026).

Latihan terintegrasi ini menggabungkan antara teknologi dan strategi peperangan di era modern. Operasi diawali dengan pertahanan udara dari TNI AU yang mengerahkan pesawat tempur terbaru Rafale dan F-16 dengan muatan bom MK-82, kemudian dilanjutkan Operasi Khusus Matra Udara dari Korps Pasukan Gerak Cepat (Korpasgat).

Dari segi laut, TNI AL mengerahkan Unmanned Surface Vehicle (USV) Kamikaze yang diluncurkan dari KRI Soeharso-991 dengan sasaran di laut dilanjutkan dengan operasi peranjauan, serta infiltrasi pasukan khusus yang juga melaksanakan sabotase kabel bawah air oleh Komando Pasukan Katak (Kopaska). Latihan ini juga melibatkan peperangan siber yang salah satunya diasumsikan pelumpuhan terhadap instalasi listrik musuh.

Setelah daerah musuh dipastikan lumpuh dari serangan siber, maka peluru kendali C-705 yang ada di KRI ditembakkan dengan sasaran musuh di darat sehingga fasilitas musuh lumpuh. Tidak hanya rudal, TNI juga menembakkan Bantuan Tembakan Kapal (BTK) dari KRI Prabu Siliwangi-321, KRI Sultan Iskandar Muda-367 dan KRI Raden Eddy Martadinata-331 serta tembakan Multi Launcher Rocket System (MLRS) dari Korps Marinir.

Selain unsur udara dan laut, operasi juga didukung oleh pasukan Lintas Udara (Linud) TNI AD juga melaksanakan penerjunan tempur dari Pesawat Hercules C-130. TNI AD juga mengerahkan intai drone tempur serta pasukan Artileri Medan. Seluruh rangkaian latihan dirancang untuk meningkatkan kesiapan tempur dan kemampuan operasi gabungan dalam menghadapi ancaman modern.

Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin menyampaikan bahwa berdasarkan laporan Panglima TNI, para Kepala Staf Angkatan, serta hasil peninjauan langsung di lapangan, TNI telah menunjukkan kesiapan yang meyakinkan dalam menjalankan tugas menjaga, memelihara, dan mengamankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. ‘’Kemampuan yang ditampilkan dalam latihan ini menjadi bukti nyata meningkatnya kesiapan tempur TNI, baik dari aspek alutsista, kualitas prajurit, maupun dukungan amunisi,’’ ungkap Menhan dalam keterangannya.

Menhan juga menegaskan bahwa revitalisasi pertahanan negara pada tahun 2026 mulai menunjukkan hasil yang signifikan. Berbagai kemampuan tempur yang diperagakan dalam latihan, termasuk penggunaan produk industri pertahanan dalam negeri, menjadi bukti bahwa Indonesia terus memperkuat kemandirian pertahanan nasional sekaligus meningkatkan daya tangkal dalam menghadapi berbagai ancaman.

Operasi TNI Terintegrasi 2026 menjadi bagian dari upaya peningkatan profesionalisme prajurit melalui latihan yang mengintegrasikan berbagai sistem persenjataan dan teknologi terkini. Materi latihan menitikberatkan pada kecepatan pengambilan keputusan, koordinasi, serta efektivitas pelaksanaan operasi gabungan sesuai skenario yang telah direncanakan. 

Sumber:

ISDS, 2026. “Latihan Terintegrasi TNI 2026, TNI Kerahkan Drone Kamikaze, Tank, MLRS hingga Rudal C-705” [Online]. In https://www.isds.co.id/2026/08/06/latihan-terintegrasi-tni-2026-tni-kerahkan-drone-kamikaze-tank-mlrs-hingga-rudal-c-705/ [Accessed on 7 Agustus 2026]

Launching of construction for Indonesia’s first Scorpène submarine

Foto: PT.PAL

Pada tanggal 7 Agustus 2026, upacara pemotongan pelat baja untuk kapal selam Scorpène pertama Indonesia dilaksanakan di galangan kapal PT PAL di Surabaya, menandai dimulainya tahap konstruksi program Scorpène untuk Republik Indonesia (SRI).

Dimulainya tahap konstruksi secara efektif ini merupakan tonggak sejarah penting dalam program Scorpène untuk Republik Indonesia (SRI). Dua kapal selam Scorpène dibangun di Indonesia oleh PT PAL melalui transfer kapabilitas yang komprehensif dari Naval Group.

Pencapaian ini merupakan kelanjutan dari kerja sama yang sukses antara Naval Group dan PT PAL, yang mencakup sesi pelatihan prasyarat di Cherbourg serta berbagai tahapan sertifikasi.

Konsorsium Naval Group–PT PAL memadukan keahlian dan tanggung jawab yang saling melengkapi dari masing-masing mitra guna memastikan kolaborasi yang optimal. PT PAL bertanggung jawab atas konstruksi lambung kapal, integrasi peralatan, pengujian, perakitan akhir, dan penyerahan kapal selam kepada TNI Angkatan Laut. Sementara itu, Naval Group menyediakan desain kapal selam, dukungan rekayasa, transfer kapabilitas industri, dan dukungan teknis berkelanjutan melalui tim ahli khusus yang ditempatkan secara permanen di Surabaya.

Program SRI dirancang untuk memperkuat kedaulatan maritim Indonesia serta kemandirian industri pertahanan matra laut. Berkat transfer kapabilitas tersebut, pengelolaan, pengoperasian, dan pemeliharaan armada kapal selam di masa depan akan dilakukan sepenuhnya di Indonesia—oleh industri Indonesia dan untuk Indonesia—sehingga berkontribusi pada penguatan basis industri pertahanan nasional serta mendukung terciptanya ribuan lapangan kerja jangka panjang bagi tenaga kerja berketerampilan tinggi.

Bagi PT PAL Indonesia, dimulainya tahap konstruksi ini lebih dari sekadar awal dari sebuah proyek pembuatan kapal. Hal ini menandai perwujudan nyata kapabilitas industri kapal selam Indonesia, sekaligus memperkuat komitmen PT PAL untuk menjadi pembuat kapal angkatan laut berkelas dunia yang mampu menghadirkan platform pertahanan canggih sembari mendukung kemandirian strategis nasional.

(Artikel ini diterjemahkan dari “Launching of construction for Indonesia’s first Scorpène submarine” yang dipublikasikan oleh Humas PT.PAL pada 7 Agustus 2026)

Sumber:

PT PAL, 2026. “Launching of construction for Indonesia’s first Scorpène submarine” [Online]. In https://www.pal.co.id/launching-of-construction-for-indonesias-first-scorpene-submarine/ [accessed on 7 Agustus 2026]

BRIN Beberkan Potensi Nuklir RI ke Prabowo, Ada Uranium 89.000 Ton!

Foto: Tangkapan layar youtube sekretariat presiden

Jakarta, CNBC Indonesia – Presiden Prabowo Subianto mendapatkan paparan terkait inovasi teknologi nuklir dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) jelang pertemuan dengan 150 periset BRIN di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (6/8/2026). Paparan itu disampaikan Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir BRIN Syaiful Bakhri.

Saat mengunjungi booth terkait teknologi nuklir, Syaiful langsung memberikan penjelasan kepada Prabowo. Saat itu nampak Prabowo didampingi oleh Kepala BRIN Arif Satria dan jajaran menteri maupun kepala lembaga anggota Kabinet Merah Putih.

“Ini teknologi menjadi teknologi energi, persiapan PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir), kemudian nonenergi terkait pangan dan kesehatan,” kata Syaiful.

Kemudian Syaiful juga menjelaskan bahwa untuk bahan baku untuk PLTN di Indonesia sudah disiapkan.

“Kita punya potensi uranium sekitar 89 ribu ton di Indonesia, thorium 143 ribu ton di Indonesia sejauh ini. Dan ini adalah kemampuan dari kami memurnikan uranium sampai dengan 60% kemudian mineral ikutan dari radio aktif, …,” katanya

Namun, Syaiful terlihat tidak lagi melanjutkan penjelasannya menggunakan microphone, sehingga suaranya tidak terdengar melalui siaran YouTube Sekretariat Presiden.

Dalam kesempatan itu, BRIN juga memamerkan produk inovasi lainnya untuk mendukung program prioritas Prabowo.

Sumber

CNBC Indonesia, 2026. “BRIN Beberkan Potensi Nuklir RI ke Prabowo, Ada Uranium 89.000 Ton!” [Online]. In https://www.cnbcindonesia.com/tech/20260806155127-37-757177/brin-beberkan-potensi-nuklir-ri-ke-prabowo-ada-uranium-89000-ton

Masalah LTJ Tuntas! 100 Kapal Nikel Cs Kembali Berlayar Ekspor

Ilustrasi: Gemini AI

Jakarta, CNBC Indonesia – Kantor Staf Kepresidenan (KSP) resmi melepas kegiatan ekspor komoditas mineral pasca permasalahan hambatan kandungan logam tanah jarang (LTJ) beberapa waktu ini. Kegiatan ini ditandai dengan pelepasan ekspor komoditas Alumina Hidroksida dan Alumina Oksida dari Pelabuhan Dwikora, Pontianak, Kalimantan Barat.

KSP mencatat, terdapat setidaknya 100 kapal yang bisa kembali beroperasi. “Hambatan ekspor akibat perbedaan interpretasi ketentuan Logam Tanah Jarang atau LTJ selesai sudah dan kegiatan pengapalan kembali berjalan. Kelar sudah, 100 kapal kembali beroperasi,” terang Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman ke CNBC Indonesia, Jumat (7/8/2026).

Dudung menyampaikan, kegiatan ekspor bisa kembali terlaksana berkat koordinasi lintas kementerian dan lembaga. Nah, dari 100 kapal ekspor yang mulai kembali beroperasi, membawa hampir 400.000 ton komoditas mineral dengan nilai ekspor sekitar US$124 juta atau Rp2,2 triliun

“KSP hadir menyelesaikan hambatan. Hari ini ekspor dengan nilai ekonomi Rp2,2 triliun kembali bergerak, kegiatan produksi berlanjut. Ribuan pekerja di sektor ini, termasuk pekerja pendukung di bagian tambang, pengangkutan, pergudangan, pelabuhan, pelayaran, dan usaha pendukung lainnya, akhirnya kembali bekerja,” tegas Dudung.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Tri Winarno menyebutkan bahwa ekspor akan segera dimulai kembali secara resmi. Ia menyebut proses pelepasan pengiriman perdana pasca kendala tersebut direncanakan akan dipimpin langsung oleh pihak Kantor Staf Presiden (KSP) di wilayah Kalimantan Barat.

“Jadi kalau nggak salah Jumat itu kapan eh Jumat atau Senin besok ada pelepasan untuk yang ini ya ekspor alumina di Ketapang oleh Pak KSP,” katanya saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, dikutip Jumat (7/8/2026).

Sejatinya, kata Tri, Kandungan LTJ yang dipermasalahkan selama ini merupakan unsur alami yang menyatu dalam produk utama, sehingga penanganan regulasinya akan diatur lebih spesifik agar tidak menghambat perdagangan.

“Jadi poinnya memang secara ini secara apa itu namanya kalau misalnya logam tanah jarang itu bukan sebagai produk utama memang logam-logam kan banyak mengandung unsur ini sebagai ikutan kita sedang lakukan kajian mudah-mudahan nggak terlalu lama nanti akan keluar berapa untuk ini dan lain sebagainya,” ujarnya.

Oleh karena itu, pemerintah menyiapkan revisi aturan khusunya Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 6 tahun 2026 tentang Perubahan Keempat atas Peraturan Menteri Perdagangan No.22 tahun 2023 tentang Barang yang Dilarang untuk Diekspor.

Ini diharapkan dapat menjadi solusi agar para surveyor dan otoritas Bea Cukai memiliki standar verifikasi yang seragam di lapangan.

Sumber

CNBC Indonesia, 2026. “Masalah LTJ Tuntas! 100 Kapal Nikel Cs Kembali Berlayar Ekspor” [Online] In https://www.cnbcindonesia.com/news/20260807132737-4-757417/masalah-ltj-tuntas-100-kapal-nikel-cs-kembali-berlayar-ekspor [Accessed on 7 Agustus 2026]

South Korea Tests Manned-Unmanned Teaming (MUM-T) for Mine Warfare With an AI Mission Planner

Foto: Republic of Korea Navy

Angkatan Laut Republik Korea dan Hanwha Systems mendemonstrasikan kerja sama antara wahana berawak dan tak berawak (MUM-T) untuk operasi penanggulangan ranjau di Busan pada tanggal 3 Agustus, dengan sebuah LLM menyusun rencana pencarian—meskipun wahana permukaan tak berawak hanya menyimulasikan kegiatan penyapuan ranjau, bukan melaksanakannya secara nyata.

Angkatan Laut Republik Korea (RoKN) dan Hanwha Systems menjalankan latihan tim gabungan berawak-tanpa awak (MUM-T) untuk tindakan penanggulangan ranjau (MCM) di Pangkalan Angkatan Laut Busan pada 3 Agustus di mana sistem kecerdasan buatan menghasilkan rencana pencarian dan mengarahkan campuran platform berawak dan tanpa awak, dalam apa yang disebut sebagai percobaan pertama angkatan laut semacam itu.

Kedua pihak menamai acara tersebut dengan cara yang berbeda.  Hanwha Systems menyebutnya sebagai demonstrasi, sementara angkatan laut menyebutnya sebagai eksperimen tempur – sebuah perbedaan yang mencerminkan perbedaan antara pameran vendor dan uji kemampuan.

Hanwha Systems adalah divisi elektronik, sensor, dan komando-kontrol grup tersebut, berbeda dari pembuat kapal Hanwha Ocean, yang memegang pekerjaan desain konsep untuk kendaraan bawah air tak berawak pengintaian RoKN dan kendaraan permukaan tak berawak untuk peperangan ranjau.

Skenario dimulai dengan ranjau musuh yang memblokade Pelabuhan Busan setelah ledakan maritim yang tidak dapat dijelaskan.

Aset terdiri dari kapal penyapu ranjau seberat 730 ton ROKS Ongjin, drone pengintaian udara, dua kapal permukaan tanpa awak (USV), dan satu kendaraan bawah air otonom (AUV) yang ditugaskan untuk pencarian bawah permukaan.

Kedua USV berasal dari Hanwha Systems – USV tempur seberat 30 ton milik perusahaan yang pertama kali diluncurkan pada Juni 2026, dan kapal pengintai yang diberi nama Haeryeong.

Urutan adalah inti dari latihan tersebut.  Sebuah platform model bahasa besar menerima perintah dalam bahasa alami untuk menghasilkan rencana misi yang menemukan ranjau di koordinat ledakan, setelah itu Haeryeong dikerahkan dengan kapal penyapu ranjau di belakangnya, sebuah drone memulai pengintaian udara, dan AUV menjalankan pola pencarian yang dihasilkan oleh AI.

Data dari AUV disiarkan secara real-time ke Sistem Deteksi Tambang Otomatis Hanwha Systems, yang mengklasifikasikan kontak dan menetapkan posisi tambang sebelum kapal berawak dan tanpa awak diposisikan ulang untuk pembuangan.

Kontrol dari beberapa platform dijalankan melalui komunikasi satelit orbit rendah Eutelsat OneWeb, memungkinkan pengarahan beberapa sistem tanpa awak secara bersamaan dari darat.

Sepanjang waktu, AI berfungsi sebagai apa yang disebut oleh liputan Korea sebagai petugas staf tempur AI, menganalisis cuaca dan kondisi saat ini serta merekomendasikan rencana kepada perwira komando Ongjin daripada mengirimkannya secara langsung – sebuah pengaturan operator-on-the-loop yang memerlukan persetujuan manusia.

Satu keterbatasan tercatat dan secara material mempersempit apa yang telah dibuktikan.  USV Hanwha tidak dilengkapi untuk penambangan ranjau tetapi bertindak seolah-olah mereka melakukannya selama percobaan, karena kapal tersebut diharapkan akan ditingkatkan dengan kemampuan pembersihan ranjau di masa depan.

Tambang-tambang tersebut juga disimulasikan daripada diuji secara langsung, meninggalkan rantai netralisasi fisik yang tidak diuji sementara lapisan komando-dan-kontrol serta otonomi MUM-T diuji dari awal hingga akhir.

Yoo Moon-ki, kepala divisi bisnis maritim Hanwha Systems, mengatakan bahwa demonstrasi tersebut membuktikan teknologi AI fisik perusahaan untuk mengoptimalkan operasi antara angkatan laut berawak dan tanpa awak – pernyataan yang diterjemahkan dari bahasa Korea.

Dari pihak angkatan laut, seorang perwira dari divisi inovasi operasi sistem tak berawak Komando Operasi Angkatan Laut, Lee Kwang-hoon, mengatakan bahwa konsep tersebut cukup valid untuk operasi maritim di masa depan, dengan AI mendukung perencanaan misi dan analisis target sementara kapal penyapu ranjau dan sistem tak berawak beroperasi bersama.

Pekerjaan ini memiliki tujuan pengadaan di MSH-II, kapal pemburu ranjau generasi berikutnya dari RoKN.  Pada November 2024, Administrasi Program Akuisisi Pertahanan memberikan sistem manajemen tempur kepada Hanwha Systems untuk kapal tersebut, dengan pengiriman pada tahun 2029 dan cakupan yang mencakup perencanaan misi perang ranjau otomatis, deteksi ranjau berbasis AI, serta pencarian dan pembuangan ranjau terintegrasi berawak-tanpa awak.

Rival LIG Nex1 memegang pekerjaan pemantauan ranjau bawah air yang komplementer, dan hasil dari keduanya memberi umpan pada peta jalan Angkatan Laut RoKN Sea GHOST, yang menargetkan pengujian sistem pemantauan dan netralisasi ranjau otonom pada tahun 2027.

Taruhan operasional terlihat di tempat lain.  Kapasitas MCM Barat telah menipis secara signifikan, dengan Angkatan Laut AS membongkar kapal penyapu ranjau Teluknya beberapa bulan sebelum Iran menambang Selat Hormuz.

Angkatan laut regional sementara itu telah mengejar program kendaraan bawah air otonom mereka sendiri, mengejar kemampuan pencarian bawah permukaan yang hampir sama dengan yang diberikan AUV di Busan.

MUM-T sedang maju di sisi udara secara paralel, dengan kru M-346 yang telah mengendalikan KIZILELMA dari Baykar dalam uji coba K-Swarm langsung pertama.

(Artikel ini adalah terjemahan dari “South Korea Tests Manned-Unmanned Teaming (MUM-T) for Mine Warfare With an AI Mission Planner” yang dipublikasikan oleh media Quwa pada 5 Agustus 2026)

Sumber

Quwa, 2026. “South Korea Tests Manned-Unmanned Teaming (MUM-T) for Mine Warfare With an AI Mission Planner” [Online]. In https://quwa.org/asia-pacific/south-korea-tests-manned-unmanned-teaming-mum-t-for-mine-warfare-with-an-ai-mission-planner/ [Accessed on 6 Agustus 2026]

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Ilustrasi: Gemini AI

Dari perspektif organisasi, penunjukan KSAL Laksamana Muhammad Ali sebagai Panglima TNI akan mengembalikan keseimbangan antarmatra yang selama ini menjadi salah satu tradisi tidak tertulis dalam regenerasi kepemimpinan TNI.

“Jika ditarik sejak era Marsekal Hadi Tjahjanto, distribusi kepemimpinan antarmatra menunjukkan ketimpangan,”  kata Pengamat Politik dan Militer Universitas Nasional (UNAS) Selamat Ginting, dikutip Sabtu 8 Agustus 2026.

Hadi Tjahjanto dari Angkatan Udara memimpin sekitar empat tahun (2017-2021). Penggantinya, Jenderal Andika Perkasa dari Angkatan Darat, hanya sekitar satu tahun.

Setelah itu Laksamana Yudo Margono dari Angkatan Laut juga hanya sekitar satu tahun. Kini Jenderal Agus Subiyanto dari Angkatan Darat telah memimpin hampir tiga tahun.

Dengan demikian, dalam kurun tersebut Angkatan Udara memperoleh sekitar empat tahun kepemimpinan, Angkatan Darat sekitar empat tahun, sedangkan Angkatan Laut baru sekitar satu tahun.

Dari sisi keseimbangan organisasi, terdapat alasan yang cukup kuat agar giliran kepemimpinan kembali diberikan kepada matra laut.

Hal ini penting bukan semata-mata soal pemerataan jabatan, melainkan menjaga rasa memiliki (sense of ownership) seluruh matra terhadap institusi TNI.

Soliditas organisasi dibangun bukan hanya melalui doktrin dan latihan, tetapi juga melalui persepsi bahwa setiap matra memperoleh kesempatan yang adil untuk memimpin.

Sebagian kalangan mungkin berpendapat Presiden Prabowo Subianto akan lebih nyaman dipimpin oleh Panglima dari Angkatan Darat mengingat latar belakangnya sebagai prajurit Angkatan Darat, lulusan Akmil 1974.

“Pertimbangan itu sah sebagai hak prerogatif Presiden,” kata Ginting.

Namun justru karena berasal dari matra darat, memilih Panglima dari Angkatan Laut dapat menjadi pesan politik bahwa Presiden Prabowo berdiri di atas seluruh matra secara setara.

Apabila pada 2027 atau 2028 Presiden Prabowo kembali menghendaki Panglima dari Angkatan Darat menjelang Pemilu 2029, kesempatan itu masih terbuka.

“Karena itu, momentum sekarang merupakan waktu yang tepat untuk memberikan kesempatan kepada Angkatan Laut,” pungkas Ginting

Sumber

RMOL.id, 2026. “Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut” [Online]. In https://rmol.id/politik/read/2026/08/08/717520/giliran-kepemimpinan-tni-kembali-diberikan-kepada-matra-laut [Accessed on 8 Agustus 2026]

Iran: Kesepakatan Selat Hormuz Hampir Tercapai, Tapi Belum Bisa Buka Jalur Pelayaran

Ilustrasi: Gemini AI

KONTAN.CO.ID – DUBAI. Iran menyatakan bahwa kesepakatan dengan Oman mengenai kendali atas Selat Hormuz sudah dekat namun belum cukup untuk membuka kembali jalur pelayaran tersebut, sementara Uni Emirat Arab menyatakan Iran telah menghantam kapal lain di wilayah itu. Mengutip Reuters, Minggu (9/8/2026), kesepakatan antara Iran dan Oman mengenai selat tersebut dipandang krusial bagi kesepakatan yang lebih luas untuk mengakhiri perang yang bermula dari serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, yang menyebabkan Teheran menguasai dan membatasi akses di jalur ekspor energi utama tersebut.

Seorang pejabat AS, yang meminta namanya tidak disebutkan, pada hari Jumat mengatakan bahwa Washington memperkirakan akan segera tercapai kesepakatan antara Iran dan Oman—yang terletak di kedua sisi selat tersebut—sehingga lalu lintas minyak dapat kembali normal.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyatakan bahwa Iran dan Oman sudah “sangat dekat” dengan kesepakatan mengenai rute pelayaran baru melalui selat tersebut, namun pembukaan kembali jalur itu akan bergantung pada kondisi lain, termasuk pemberian kompensasi dari AS kepada Iran. 

Sekretaris badan keamanan nasional tertinggi Iran, Mohammad Baqer Zolqadr, merinci tuntutan lain yang mencakup penghentian ancaman AS terhadap Iran, penghentian agresi terhadap Iran serta sekutunya di Lebanon, Palestina, Yaman, dan Irak, pencabutan blokade dan sanksi terhadap Iran, serta pembebasan aset-aset Iran.

Oman Melaporkan Negosiasi Positif, Mengutuk Serangan terhadap Kapal Oman mengutuk serangan berulang terhadap kapal-kapal yang melintasi selat tersebut—tanpa menunjuk pihak mana pun sebagai pelaku dan menyatakan bahwa negosiasi dengan Iran mengenai pengaturan pelayaran melalui Selat Hormuz berjalan “positif dan konstruktif”.

“Oman menekankan pentingnya menghindari tindakan apa pun yang dapat mempengaruhi negosiasi ini serta kemajuan yang telah dicapai, dengan cara yang tetap mempertimbangkan kepentingan semua pihak,” demikian pernyataan kementerian luar negeri Oman.

Araqchi mengatakan bahwa skema pemisahan lalu lintas pelayaran sebelumnya di selat tersebut tidak lagi dapat diterima oleh Teheran, dan bahwa Iran sedang membahas rute sementara dengan Oman sembari menyelesaikan masalah teknis dan hukum terkait rute permanen.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian, yang dikenal sebagai sosok yang relatif moderat, menyatakan keyakinannya bahwa saat ini adalah waktu terbaik untuk mencapai kesepakatan. “Ada kohesi, kekuatan, dan persatuan di dalam negeri, dan sejauh yang saya tahu, Iran dianggap sebagai pihak yang menang dan kuat dalam perang ini,” demikian kutipan pernyataan Pezeshkian oleh kantor berita Iran. Iran merespons serangan AS dengan menargetkan pangkalan-pangkalan AS di negara-negara Teluk dan Yordania, serta menyerang kapal-kapal yang melintasi selat sempit tersebut—jalur yang sebelum perang mengangkut seperlima dari pasokan minyak dan gas dunia. 

Pada hari Sabtu, UEA menyatakan bahwa Iran telah menyerang sebuah kapal yang berafiliasi dengan perusahaan minyak negara UEA menggunakan rudal saat kapal itu melintasi Selat Hormuz; tidak ada laporan korban luka dalam insiden terbaru yang menyasar pelayaran di wilayah tersebut.  Lembaga pemantau perdagangan maritim Inggris, UKMTO, melaporkan bahwa sebuah kapal terbakar setelah terkena proyektil tak dikenal, namun api berhasil dipadamkan dan tidak ada dampak lingkungan yang dilaporkan.

Belum ada komentar langsung dari pihak berwenang Iran. Dalam beberapa pekan terakhir, pemerintahan Trump berulang kali mengisyaratkan bahwa kesepakatan untuk membuka kembali selat tersebut sudah dekat, namun Iran justru membantah adanya perundingan yang sedang berlangsung.

Belum jelas apakah rangkaian negosiasi terbaru ini akan menghasilkan pengaturan yang lebih permanen. “Begitu kesepakatan untuk memulihkan pelayaran komersial tanpa hambatan diumumkan, Amerika Serikat akan mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran,” ujar pejabat AS tersebut kepada Reuters pada hari Jumat.

Tindakan AS akan bergantung pada pelaksanaan komitmen Iran, ujarnya. Komando Pusat AS pada hari Sabtu menyatakan telah mengizinkan lebih dari 30 kapal yang membawa bantuan kemanusiaan untuk melintas sejak blokade saat ini dimulai.

Pasukan AS telah menolak masuk 53 kapal, melumpuhkan dua kapal, dan menaiki dua kapal lainnya, demikian disampaikan Komando Pusat dalam sebuah pernyataan di media sosial. Korps Garda Revolusi Iran yang telah menargetkan kapal-kapal tersebut—pada hari Sabtu juga menyatakan bahwa pembukaan kembali selat itu bergantung pada kesediaan Washington menerima syarat-syarat Iran dan tidak terkait dengan negosiasi antara Iran dan Oman.

 “Kapan pun Amerika Serikat menerima syarat-syarat Iran, Selat Hormuz pasti akan dibuka kembali,” kata juru bicara Garda Revolusi, Hossein Mohebbi, sebagaimana dilaporkan kantor berita Iran, Tasnim.

Iran Akan Diberi Kendali

Usulan kesepakatan antara Iran dan Oman untuk membantu mengakhiri konflik lima bulan antara Iran dan AS akan memberikan kendali kepada Teheran atas kapal-kapal yang memasuki Teluk melalui selat tersebut, menurut seorang pejabat senior Iran. Sebuah sumber dan dua pejabat regional mengatakan kepada Reuters pada hari Rabu bahwa ini merupakan salah satu konsesi terbesar yang pernah diberikan kepada Iran. Para pejabat AS telah berulang kali menyatakan bahwa mereka tidak akan pernah menyetujui Iran mengendalikan akses ke jalur perdagangan pasokan energi terpenting di dunia tersebut. Tidak jelas apakah mereka telah berupaya mengubah ketentuan kesepakatan itu. Iran telah memanfaatkan situasi permusuhan tersebut untuk membenarkan pengenaan biaya (tol) terhadap kapal tanker minyak. Tindakan itu, serta penembakan terhadap kapal-kapal yang mencoba melintasi selat tersebut tanpa izin Iran, telah sangat mengganggu pengiriman global, menyebabkan lonjakan harga energi dan memicu inflasi.

Sumber

Kontan, 2026. “Iran: Kesepakatan Selat Hormuz Hampir Tercapai, Tapi Belum Bisa Buka Jalur Pelayaran” [Online]. In https://internasional.kontan.co.id/news/iran-kesepakatan-selat-hormuz-hampir-tercapai-tapi-belum-bisa-buka-jalur-pelayaran [Accessed on 9 Agustus 2026]

Tags: aluminaIranlatihan terintegrasilogam tanah jarangLTJmarinirNaval GroupNikelPerang IranPT.PALScorpenesteel cuttingTNI-ADTNI-ALTNI-AU

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CNDSS

The Center for National Defense and Security Studies (CNDSS) is a non-profit organization dedicated to fostering collaboration between universities, government, and industries in the field of defense and security matters with strategic, analytically rich, and coherent analysis. Our mission is to promote innovation, research, and development in this critical area, with the ultimate goal of enhancing the safety and security of our communities and nations.

Our Social Media

© 2024 CNDSS- Center for National Defense and Security Studies (CNDSS).

No Result
View All Result
  • Home
  • Commenting
  • Insight
  • Weekly Report
  • Agenda
  • About us

© 2024 CNDSS- Center for National Defense and Security Studies (CNDSS).