CNDSS
  • Home
  • Commenting
  • Insight
  • Weekly Report
  • Agenda
  • About us
No Result
View All Result
CNDSS
  • Home
  • Commenting
  • Insight
  • Weekly Report
  • Agenda
  • About us
No Result
View All Result
CNDSS
No Result
View All Result

Super Garuda Shield dan Perluasan Diplomasi Pertahanan Indonesia

Putra Gahara by Putra Gahara
26 September 2026
in Commenting
0
Super Garuda Shield dan Perluasan Diplomasi Pertahanan Indonesia
Share on FacebookShare on Twitter

Foto: Super Garuda Shield Photography Team

Kebutuhan Diplomasi Pertahanan bagi Indonesia

Perkembangan situasi keamanan di Indo-Pasifik membuat hubungan antarnegara semakin kompleks. Persaingan kekuatan besar, persoalan keamanan maritim, perkembangan teknologi pertahanan, hingga ancaman bencana dan krisis kemanusiaan menjadi bagian dari dinamika kawasan. Kondisi tersebut membuat negara perlu memiliki kemampuan untuk menjaga kepentingannya sekaligus membangun hubungan baik dengan negara lain.

Bagi Indonesia, salah satu cara untuk melakukannya adalah melalui diplomasi pertahanan. Bentuknya cukup beragam, mulai dari pertukaran personel, pendidikan militer, kerja sama pertahanan, hingga latihan bersama. Kegiatan seperti ini memberi kesempatan kepada Indonesia untuk membangun hubungan dengan berbagai negara tanpa harus terikat pada blok militer tertentu. Pendekatan tersebut sejalan dengan politik luar negeri bebas aktif Indonesia.

Salah satu contohnya adalah  Latihan Bersama Multinasional Super Garuda Shield (SGS). Latihan ini pada dasarnya merupakan kegiatan militer, tetapi pertemuan dan kerja sama yang terjadi di dalamnya juga memiliki dimensi diplomatik. Personel dari berbagai negara bertemu, berlatih bersama, dan saling mempelajari cara kerja masing-masing.

Perkembangan Super Garuda Shield

Super Garuda Shield berawal dari latihan Garuda Shield yang diselenggarakan oleh Indonesia dan Amerika Serikat pada 2006 di Bogor sebagai kegiatan pertukaran informasi dan pelatihan bilateral antara Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Angkatan Darat Amerika Serikat. Seiring perkembangannya, semakin banyak negara yang terlibat sehingga latihan ini berubah menjadi kegiatan multilateral. Perubahan tersebut semakin terlihat sejak 2022 ketika cakupan dan jumlah negara peserta diperluas.

SGS 2026 berlangsung pada 31 Agustus hingga 11 September dan melibatkan 4.743 personel dari 21 negara. Latihan dilaksanakan di beberapa wilayah, antara lain Bandung, Jakarta, Lampung, Baturaja, dan Nunukan. Materi yang diberikan juga cukup beragam, seperti Staff Exercise (STAFFEX), Cyber Exercise, Humanitarian Assistance and Disaster Relief (HADR), Field Training Exercise (FTX), operasi udara dan laut, operasi pasukan khusus, pertempuran darat, serta evakuasi medis.

Skala latihan tersebut juga terlihat dari penggunaan sejumlah alutsista. Dalam joint land strike di Baturaja, misalnya, Indonesia dan Amerika Serikat mengoperasikan HIMARS, ASTROS II Mk6, RM-70 Vampire, F-16, dan AH-64 Apache. C-130J Super Hercules digunakan dalam latihan lintas udara, sedangkan UH-60/HH-60 Black Hawk digunakan untuk latihan evakuasi medis.

Perkembangan ini membuat SGS memiliki cakupan yang jauh lebih luas dibandingkan dengan bentuk awal Garuda Shield. Pertemuan berbagai negara dan matra dalam satu latihan juga membuka lebih banyak kesempatan untuk membangun hubungan antarmiliter.

Super Garuda Shield sebagai Momentum Diplomasi Pertahanan

Salah satu bagian penting dari latihan bersama adalah interaksi antar personel. Ketika tentara dari negara yang berbeda berada dalam satu latihan, mereka harus berkomunikasi dan menyesuaikan prosedur yang digunakan. Dari proses tersebut, masing-masing pihak dapat mengenal cara kerja dan kemampuan mitra. Hal ini dapat dilihat dalam STAFFEX yang dilaksanakan di Bandung. Pada tahap Operations Order Development, personel dari berbagai negara bersama-sama mengembangkan Course of Action menjadi rencana operasi yang lebih rinci. Mereka perlu menyamakan pemahaman mengenai tujuan operasi, pembagian tugas, serta prosedur yang akan digunakan.

Hubungan yang terbentuk dari kegiatan semacam ini dapat menjadi bagian dari jaringan diplomasi pertahanan Indonesia. Hubungan antarpersonel militer yang awalnya terbentuk melalui latihan dapat membantu membuka komunikasi ketika terjadi persoalan yang membutuhkan kerja sama di kemudian hari.

Pada saat yang sama, keikutsertaan Indonesia dalam SGS tidak berarti Indonesia menjadi bagian dari aliansi militer tertentu. Indonesia tetap dapat melakukan latihan dengan Amerika Serikat maupun negara lain tanpa mengubah prinsip bebas aktif. Dengan banyaknya negara yang terlibat, Indonesia justru memiliki ruang untuk membangun hubungan pertahanan dengan berbagai pihak.

Meningkatkan Kemampuan Bekerja Bersama

Latihan multilateral juga menjadi kesempatan bagi TNI untuk meningkatkan interoperabilitas.  Dalam joint land strike di Baturaja, misalnya, berbagai sistem persenjataan digunakan dalam satu latihan. peluncur rudal HIMARS, ASTROS II, RM-70 Vampire, pesawat tempur F-16, dan helikopter serang Apache memiliki karakteristik dan prosedur penggunaan yang berbeda. Koordinasi diperlukan agar setiap unsur dapat menjalankan tugasnya sesuai rencana.

Hal yang sama terlihat pada STAFFEX. Penyusunan rencana operasi bersama membuat personel TNI berhadapan langsung dengan prosedur yang digunakan oleh militer negara lain. Pengalaman tersebut dapat menjadi bahan untuk melihat bagian mana yang dapat diterapkan dan mana yang perlu disesuaikan dengan kebutuhan Indonesia. Kerja sama juga dilakukan di bidang siber melalui Cyber Defence Exercise. Personel dari berbagai negara bertukar pengalaman dalam menghadapi ancaman siber dan berlatih menggunakan mekanisme pertahanan bersama. Artinya, peningkatan kemampuan dalam SGS tidak terbatas pada operasi tempur konvensional.

Menjaga Otonomi Strategis

Besarnya SGS juga menimbulkan persoalan tersendiri. Semakin banyak negara yang terlibat, semakin banyak pula perbedaan doktrin, prosedur, sistem komando, dan kepentingan yang harus dikelola. Interoperabilitas, karena itu, membutuhkan latihan yang berulang; bukan sesuatu yang langsung terbentuk dalam satu kegiatan.

Indonesia juga perlu memastikan bahwa kerja sama tersebut tetap memberikan ruang bagi kepentingan nasional. Latihan dengan Amerika Serikat dan negara-negara lain sebaiknya tidak ditafsirkan sebagai pilihan untuk bergabung dengan blok tertentu. Kerja sama tersebut dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan TNI, selama Indonesia tetap memiliki kebebasan dalam menentukan kebijakan pertahanannya. Keberhasilan SGS tidak cukup dinilai dari banyaknya negara yang hadir atau dari alutsista yang digunakan. Yang lebih penting adalah apa yang dapat dibawa pulang oleh Indonesia setelah latihan selesai. Pengalaman dari latihan dapat menjadi masukan untuk meningkatkan kemampuan personel, memperbaiki prosedur, dan memperkuat hubungan dengan negara mitra. Dari sinilah Super Garuda Shield dapat ditempatkan sebagai salah satu pilar diplomasi pertahanan Indonesia di kawasan Indo-Pasifik.

Penulis: Putra Gahara

Editor: Alfin Febrian Basundoro

Tags: ASASATROS-IIASTROS IIDiplomasi PertahananF-16HIMARSIndonesiaOperations Order DevelopmentSGSSTAFFEXSuper Garuda ShieldTNIUS

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CNDSS

The Center for National Defense and Security Studies (CNDSS) is a non-profit organization dedicated to fostering collaboration between universities, government, and industries in the field of defense and security matters with strategic, analytically rich, and coherent analysis. Our mission is to promote innovation, research, and development in this critical area, with the ultimate goal of enhancing the safety and security of our communities and nations.

Our Social Media

© 2024 CNDSS- Center for National Defense and Security Studies (CNDSS).

No Result
View All Result
  • Home
  • Commenting
  • Insight
  • Weekly Report
  • Agenda
  • About us

© 2024 CNDSS- Center for National Defense and Security Studies (CNDSS).