CNDSS
  • Home
  • Commenting
  • Berita
  • Weekly Report
  • Insight
  • About us
No Result
View All Result
CNDSS
  • Home
  • Commenting
  • Berita
  • Weekly Report
  • Insight
  • About us
No Result
View All Result
CNDSS
No Result
View All Result

CNDSS Hadiri Misi PÉGASE 2026, Soroti Interoperabilitas Udara dan Otonomi Strategis dalam Kemitraan Indonesia–Prancis

cndss.id by cndss.id
6 October 2026
in Berita
0
CNDSS Hadiri Misi PÉGASE 2026, Soroti Interoperabilitas Udara dan Otonomi Strategis dalam Kemitraan Indonesia–Prancis
Share on FacebookShare on Twitter

Kru Misi Pégase 2026 memberikan pemaparan dalam kegiatan yang dihadiri CNDSS di Pangkalan TNI Angkatan Udara, Selasa, 22 September 2026. (Foto: CNDSS)

Kehadiran CNDSS pada rangkaian kegiatan di Lanud Halim Perdanakusuma dan forum malam di Mandarin Oriental Jakarta memberikan ruang untuk mencermati dua dimensi utama PÉGASE 2026: proyeksi kekuatan udara dan operasionalisasi otonomi strategis Prancis di Indo-Pasifik.

Center for National Defense and Strategic Studies (CNDSS) menghadiri rangkaian kegiatan Misi PÉGASE 2026 di Pangkalan TNI Angkatan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, pada Selasa, 22 September 2026. Kehadiran tersebut merupakan bagian dari upaya CNDSS untuk memperdalam kajian atas perkembangan kerja sama pertahanan Indonesia–Prancis, terutama pada aspek kekuatan udara, interoperabilitas, pembangunan kapasitas, dan dinamika strategis di Indo-Pasifik.

PÉGASE 2026 merupakan misi proyeksi udara jarak jauh Angkatan Udara dan Antariksa Prancis (Armée de l’Air et de l’Espace) yang berlangsung pada 8 September–15 Oktober 2026. Edisi ketujuh ini melibatkan sekitar 300 personel, empat Rafale F4, tiga A330 MRTT Phénix, dan dua A400M Atlas dalam perjalanan sekitar 40.000 kilometer yang menghubungkan kawasan Arktik, Indo-Pasifik, hingga Timur Tengah. Indonesia menjadi salah satu titik persinggahan penting dalam rangkaian tersebut pada 20–25 September 2026. Dalam kesempatan tersebut, kru Misi Pégase memaparkan bahwa pelaksanaan misi ini memerlukan persiapan yang sangat matang, baik dari aspek operasional maupun logistik. Salah satu hal yang menarik perhatian adalah kemampuan Misi Pégase untuk tetap terhubung secara real-time dengan markas komando mereka di Prancis selama misi berlangsung.

Foto: Pesawat Tempur Rafale miliki Armée de l’air et de l’espace (Angkatan Udara dan Antariksa Prancis) mendemonstrasikan kemampuan pengisian bahan bakar di udara menggunakan metode “Probe-and-Drogue” pada perhelatan misi Pegase 2026. (Foto: CNDSS)

Misi ini dipimpin oleh Mayor Jenderal Julien Sabéné, Wakil Komandan Komando Pertahanan Udara dan Operasi Udara Prancis. Dalam pemaparannya pada kegiatan siang hari di Lanud Halim Perdanakusuma, Sabéné menjelaskan bahwa PÉGASE merupakan bentuk proyeksi kekuatan udara Prancis ke luar wilayah Eropa sekaligus instrumen untuk mempertahankan kesiapan operasi jarak jauh dan untuk memperkuat diplomasi pertahanan. Ia menempatkan Indo-Pasifik sebagai kawasan yang memiliki arti langsung bagi kepentingan Prancis. Menurut penjelasannya, sekitar dua juta warga Prancis tinggal di kawasan Indo-Pasifik, sehingga stabilitas kawasan berkaitan pula dengan perlindungan warga, kepentingan, dan keamanan nasional Prancis.

Sabéné juga menekankan bahwa karakter PÉGASE sebagai misi lintas kawasan memberi tantangan operasional yang nyata. Perubahan iklim, cuaca, kondisi geografis, pola dukungan logistik, dan lingkungan operasi yang berbeda dari satu kawasan ke kawasan lain menuntut kemampuan adaptasi yang tidak sepenuhnya dapat direplikasi melalui simulator. Dalam konteks tersebut, PÉGASE berfungsi bukan hanya sebagai pengerahan kekuatan, tetapi juga sebagai latihan langsung untuk menguji kesiapan personel, prosedur, dukungan, dan kemampuan bekerja dalam lingkungan yang berubah.

Rangkaian PÉGASE di Indonesia turut mencakup Air Maneuver Exercise bersama TNI Angkatan Udara yang telah dilakukan semenjak 21 September. Latihan tersebut melibatkan penerjunan taktis, simulasi pengisian bahan bakar di udara, serta penggunaan unsur Rafale, A330 MRTT, dan A400M. Bagi CNDSS, kegiatan ini menunjukkan bahwa interoperabilitas tidak terbentuk semata-mata karena adanya kesamaan atau keterhubungan platform, tetapi melalui latihan berulang, pemahaman prosedur, komunikasi antarsatuan, kesiapan dukungan, dan pengalaman operasi bersama.

oplus_8593080352

Pesawat A400M Prancis dan TNI AU berjajar di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, diambil dari kabin A330 MRTT Phénix Angkatan Udara dan Antariksa Prancis dalam rangkaian Misi Pégase 2026, Selasa (22/9/2026). (Foto: CNDSS)

Pada malam harinya, CNDSS melanjutkan partisipasinya dalam sesi konferensi di Mandarin Oriental, Jakarta, yang turut dihadiri Mayor Jenderal Julien Sabéné sebagai Komandan PÉGASE 2026 serta jajaran staf Atase Pertahanan Kedutaan Besar Prancis di Indonesia. Dalam forum tersebut, Sabéné menguraikan dimensi strategis PÉGASE melalui tiga tema utama: operasionalisasi otonomi strategis, interoperabilitas angkatan udara yang didorong oleh penggunaan platform bersama, serta pesan strategis yang ingin disampaikan oleh pengerahan ini kepada mitra utama maupun para pesaing strategis Prancis di Indo-Pasifik.

Dalam kerangka yang disampaikan Sabéné, otonomi strategis berkaitan dengan kemampuan mempertahankan kedaulatan dan kemandirian dalam bertindak. Bagi Prancis, kemampuan memproyeksikan kekuatan udara secara cepat dan relatif mandiri ke kawasan yang jauh menjadi bagian dari kredibilitas strategis tersebut. PÉGASE karena itu tidak hanya berfungsi sebagai demonstrasi kemampuan teknis, tetapi juga sebagai sarana untuk memperlihatkan kapasitas negara dalam menghubungkan kekuatan tempur, pengisian bahan bakar di udara, angkutan strategis, komando dan kendali, serta jaringan kemitraan internasional.

Dari sudut pandang CNDSS, dinamika ini relevan bagi hubungan pertahanan Indonesia–Prancis yang secara bertahap berkembang melampaui pola hubungan pembeli dan pemasok. Kerja sama kedua negara semakin mencakup pengadaan platform, pendidikan dan pelatihan, pertukaran keahlian, dukungan logistik, penguatan kapasitas, dan kerja sama industri pertahanan. Kehadiran platform yang sama atau saling kompatibel membuka peluang bagi kedua angkatan udara untuk membangun kesamaan prosedur dan pengalaman operasi yang lebih dalam. Namun, kesamaan platform bukanlah kondisi yang dengan sendirinya menghasilkan interoperabilitas; manfaatnya baru akan terbentuk apabila didukung oleh doktrin, sistem komunikasi, sumber daya manusia, pemeliharaan, rantai pasok, dan latihan yang berkelanjutan.

Momentum PÉGASE 2026 juga menegaskan pentingnya melihat modernisasi alutsista sebagai pembangunan ekosistem, bukan semata-mata penambahan platform. Efektivitas kemampuan udara modern ditentukan oleh kualitas personel, kesiapan infrastruktur, sistem komando dan kendali jarak jauh, dukungan pemeliharaan berkelanjutan, ketersediaan suku cadang, integrasi logistik, serta kemampuan institusi untuk menyerap pengetahuan dan mempertahankan kesiapan operasi. Dalam jangka panjang, kualitas kemitraan pertahanan akan lebih ditentukan oleh kemampuan membangun kapasitas tersebut daripada oleh nilai transaksi pengadaan semata.

Pada tingkat kawasan, rute PÉGASE yang menghubungkan Arktik, Indo-Pasifik, Samudra Hindia, dan Timur Tengah menunjukkan bahwa proyeksi kekuatan udara modern sangat bergantung pada jaringan akses, mitra, dan titik dukungan. Bagi Indonesia, interaksi dengan misi semacam ini memberi kesempatan untuk memahami bagaimana negara mitra mengintegrasikan diplomasi pertahanan dengan kesiapan operasi, sekaligus memperluas pengalaman TNI AU dalam berinteraksi dengan kekuatan udara yang memiliki kapasitas proyeksi global.

CNDSS memandang bahwa tahap berikutnya dari kemitraan pertahanan Indonesia–Prancis perlu semakin menekankan kedalaman kualitas kerja sama terutama dalam kerjasama ekonomi dan industri pertahanan antar dua negara. Latihan yang konsisten, pertukaran pengetahuan, penguatan kemampuan pemeliharaan, kesiapan logistik, pendidikan personel, serta keterlibatan industri dan lembaga riset dapat menjadi fondasi agar hubungan kedua negara menghasilkan kapasitas yang bertahan dalam jangka panjang.

Tentang CNDSS

Center for National Defense and Strategic Studies (CNDSS) merupakan organisasi nirlaba yang mendorong kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan industri dalam isu pertahanan dan strategis. CNDSS berfokus pada pengembangan kajian strategis yang kaya analisis dan koheren, serta pada penguatan riset, kebijakan, inovasi, dan pertukaran pengetahuan untuk mendukung pengembangan sektor pertahanan dan strategis.

Kontak Media

Instagram      : cndssindonesia

Website           : https://cndss.id/

Tags: A330 MRTTA400MAirbusArmee de l'Air et de l'EspaceCNDSSIndo-PasifikIndonesiaMisi Pegase 2026MRTTPegase 2026PrancisRafale

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CNDSS

The Center for National Defense and Security Studies (CNDSS) is a non-profit organization dedicated to fostering collaboration between universities, government, and industries in the field of defense and security matters with strategic, analytically rich, and coherent analysis. Our mission is to promote innovation, research, and development in this critical area, with the ultimate goal of enhancing the safety and security of our communities and nations.

Our Social Media

© 2024 CNDSS- Center for National Defense and Security Studies (CNDSS).

No Result
View All Result
  • Home
  • Commenting
  • Berita
  • Weekly Report
  • Insight
  • About us

© 2024 CNDSS- Center for National Defense and Security Studies (CNDSS).